Satu Langkah Dewasakan Diri

Yea you guys, udah lama nggak nulis nih. Sekarang mau bereksperimen merangkai kata demi kata lalu menjadi kalimat dan paragraf sampai pada akhirnya nanti jadi sebuah tulisan yang.......hm.....silakan kalian sendiri deh yang nilai baik atau kurang baiknya.

Kali ini gue mau coba ngomongin tentang "pendewasaan". Agak berat nih, tapi tiba-tiba gue dapet inspirasi ini dari satu kalimat lirik lagu nya Last Child yang judulnya Pedih. Buat kalian yang belum denger, coba dengerin deh. Enak lagunya.

Okay, get to the topic. Before I start my writing let me try to ask you something and honestly I expect some answers from my dearest blog-readers. Mungkin sebagian dari pembaca postingan ini, seumuran lah sama gue. Kelas 2 SMA mau naik kelas 3, berusia 16-17 tahun. Usia yang sangat pas sekali gue pikir untuk gue tanyakan pertanyaan ini. Dan nggak muluk gue rasa kalau gue mengharap jawaban kalian. Pertanyaannya cukup simple, menurut kalian apa sih arti pendewasaan diri? Dan gimana prosesnya?

Mau tau jawaban gue nggak atas pertanyaan gue sendiri di atas? Gini guys, kalo menurut gue, pendewasaan diri itu suatu rangkaian peristiwa yang saling berkesinambungan satu sama lain baik yang kita senangi atau bahkan kita hindari yang terjadi kepada diri kita dan di balik setiap peristiwa tersebut ada makna yang bisa kita ambil dari suatu sudut pandang subjektif yang kemudian membuat kita berpikir, "ini dinamika." Yap, itu aja. Singkat bukan?

Nah, ini yang bisa jadi agak panjang. Jawaban dari pertanyaan gue yang ke dua. Gimana prosesnya? Kalo ini tiap orang pasti mengalami, beda-beda tentunya, tapi pada intinya sih menghasilkan satu makna yang sama. Membentuk dan melatih pola pikir kita untuk semakin berkembang dan berpikir progresif secara maju biar kita bisa jadi lebih siap lagi dari sebelumnya apabila harus dihadapkan pada situasi-situasi sulit. Itu!

Well, kalau boleh gue berbagi (bahasa resmi) / curhat (niat sebenarnya) proses pendewasaan diri yang sedang gue alami adalah variatif. Iya, memang rata-rata variatif, dan di dalamnya ada berbagai macam bentuk emosi ; senang, sedih, marah, kecewa, kalut, gembira, bahagia, dan lain sebagainya.

Tadi gue lagi naik motor, dan di pikiran gue terbesit satu lirik lagu Last Child yang udah gue ceritain di atas, dan gue berpikir, "satu langkah dewasakan diri" ini kok sepertinya lagi pas sekali ya dengan kondisi gue? Akhir-akhir ini gue mengalami beberapa hal yang beda. Ada satu wanita di perjalanan gue menuju kedewasaan, gerangan wanita ini setia sekali nemenin gue. Bukan secara fisik, tapi batin. Gue selalu berpikir tentang dia, hampir setiap gue menggunakan organ otak gue untuk berpikir pasti gue mikirin dia. Gue sama dia, akur banget. Iseng satu sama lain, gue seneng liat dan denger ketawanya dia, tapi gue gak tau deh dianya gimana. Sedih-__-"

Tapi ada problem antara gue sama dia, diawali Jumat pekan lalu. Udah lebih dari seminggu deh kira-kira. Dari hari Jumat itu gue mulai puasa ngomong sama dia. Sabtu gue sms dia, nanya ada apa, dan masalahnya hampir clear saat itu. Tapi pas Senin pagi, gue dapet satu fakta tentang masalah itu dan itu ngebuat gue benar-benar kecewa sama dia. Yang awalnya dia yang marah, jutek, dan kesel sama gue, sekarang jadi gue yang ngerasain semua itu ke dia. Gue kecewa berat. Ada satu hal yang selalu gue amanatkan ke dia dari dulu, tapi dia berkali-kali ngelanggar amanat itu. Dan hasilnya, bikin gue kecewa nggak karuan. Tali silaturahmi gue sama dia, untuk beberapa saat ke depan, sejak hari itu, 'putus'. Masih dalam tanda petik, karena gue nggak akan pernah benar-benar memutuskan tali silaturahmi gue dengan siapapun. Dalam ajaran yang gue anut, itu dilarang. Jadi hanya 'putus'.

Tapi guys, dibalik kejadian itu, ada benefit dan atau possitive side yang bisa gue ambil dari sana. Kejadian itu emang pahit, nggak enak, dan segala macam perasaan negatif muncul di sana. Tapi siapa sangka, bahwa ada arti yang cukup pantas Tuhan sembunyikan itu dari gue, sampai akhirnya gue menemukannya sendiri.

Jujur aja, selama ini gue nggak pernah bisa lepas dari dia. Kayak yang gue bilang di atas. Dia selalu dateng ke pikiran gue setiap kali gue mikir. Kebayang nggak sesering apa frekuensi kedatangannya dia? Yap! Sangat sering. Tetapi oh tetapi, karena gue sama dia 'selek' seperti sekarang ini, gue perlahan demi perlahan mulai bisa lepas dari bayang-bayang dia. Gue nggak tau ini permanen atau temporari, tapi sebodo deh. Gue nggak mau terlalu ambil pusing tentang itu. Yang gue tau adalah sekarang gue udah mulai bisa enjoy tanpa dia. Later, gue mulai menyadari akan kekurangan ketergantungan gue terhadap dia itu. Dan hey, gue ngerasa, ringan. Seperti nggak ada lagi beban. Gue nggak harus mikirin dia mengenai apa yang ingin gue lakuin. Toh gue dan dia juga bukan siapa-siapa. Gue cuma cowok yang nggak pernah tau seberapa besar rasa sayangnya ke seorang cewek, dan cewek itu adalah dia. Anyway, dengan kejadian ini, bukannya gue benar-benar lepasin dia. Tapi paling nggak, untuk beberapa saat ke depan gue tau bahwa ada orang yang bersedia jaga dia, menggantikan gue. Jadi, kayaknya nggak ada alasan bagi gue untuk khawatir tentang dia.

Nah, proses pendewasaan diri yang gue ceritain di atas itu sebenernya lebih ke pelajaran dasar tentang kehidupan sih. Alami, dan lo akan mengerti. Entah berapa lama proses untuk mengerti, toh di dalam sebuah proses selalu ada hal yang bisa lo ambil. Jadi nggak ada tuh yang namanya lo buang waktu untuk memahami sesuatu dalam waktu yang lama. Karena bisa jadi, semakin lama lo memahaminya, semakin banyak yang bisa lo ambil, semakin bijak lah elo.

Tapi selalu ada hal yang berbeda untuk tiap makhluk yang berbeda di situasi kondisi dan suasana yang berbeda. Jadi, proses pendewasaan itu nggak mesti lo harus 'sakit' dulu. Sebenernya kalo kita sadar aja, banyak banget kesenangan yang kita dapetin yang kalo mau ditelusuri lebih dalam lagi itu bukan untuk kita senangi, tapi untuk kita pelajari. Sayangnya, kita lebih sering larut dalam kesenangan tersebut dan cenderung meminta kesenangan yang lainnya di lain kesempatan atau lebih parahnya lagi kita berandai-andai untuk bisa memutar waktu dan kembali ke momen-momen itu. Guys, wake up! Kita hidup di atas benda yang senantiasa berputar satu arah pada porosnya. Kalo lo hentiin benda itu, banyak yang akan terjadi. Bencana alam, bahkan hari akhir. Itu baru diberhentikan, gimana kalo diputar ke arah sebaliknya? Silakan dijawab sendiri deh ya, ilmu gue belum sampe untuk jawab itu. Yah, itu sih cuma gambaran sekilas doang tentang waktu. Jadi mumpung lo punya waktu yang masih bisa lo manfaatkan, manfaatkanlah!

Di salah satu film kesukaan gue, Tokyo Drift, pemeran kedua nya bilang gini,
"Life is simple. You make your own decision and never look back"

"Hidup itu sederhana. Kau buat keputusanmu dan jangan pernah sesali itu."

Semoga tulisan yang gue buat ini bisa membawa efek yang bagus buat kalian. Gue akan sangat-sangat bersyukur untuk itu. Tapi percayalah, gue akan merasa sangat-sangat gagal kalo setelah baca tulisan ini yang ada lo jadi orang yang stuck proses pendewasaannya, jadi orang yang terus-terusan menyesali keputusan di masa lalunya, atau lebih parah, jadi orang yang berandai-andai bisa memberhentikan laju rotasi bumi.

Comments

Popular posts from this blog

the things

sedikit kelegaan