Galau? Ini baru GALAU!
Bad night. Ya, mood gue nggak bisa ditata ulang malam ini. Timeline twitter.com akun gue heboh, rame, padet banget. Sampe mau send tweet aja tweetdeck gue mikir dulu, kayak mensortir tweet gue yang mau dikirim ke timeline cukup berkualitas atau enggak. Kejam. Trending topic malam ini versi akun @SusiloEls adalah snmptn undangan. Senior-senior gue banyak banget yang membanggakan. Keterima di universitas negeri dengan jurusan pilihan mereka sendiri. Lebih dari sekedar faktor keberuntungan, usaha mereka tentulah berandil cukup besar. Sebelum gue lebih lanjut, gue mau ngucapin the deepest and the sincerest congratulation for my seniors who have successfully got the next part of their education story. Buat yang belum, gue tetep mau ucapkan selamat, setidaknya kakak-kakak sekalian sudah pernah berani memilih dan memutuskan. Nggak keterima itu problema klasik, secara perbandingannya 1:1 alias 50:50. Ada yang bilang, life is a kinda game called gambling. Kurang lebih begitu deh. Jadi ya saat kita dapet yang positif, berarti dewi fortuna sedang berpihak ke kita. Saat enggak beruntung? Berarti dewi fortuna lagi bersama mereka yang mungkin belum pernah beruntung sebelumnya. Kurang lebih gitu deh cara menyikapi keadaan ini secara positif.
Ngomong mah gampang, coba lo lakuin! Kalimat itu ngena banget ke gue sekarang. Segala hal yang gue jadikan preface tulisan gue di atas, itu gue tulis tanpa berpikir benar-benar tentang apa yang gue tulis, karena pada kenyataannya hati dan pikiran gue nggak sejalan sama apa yang tangan gue ketik di keyboard. Pikiran gue berkecamuk, hati gue gelisah, gue galau. Bukan karena cinta, bukan karena cewek, bukan karena try out Kimia yang tadi gue kerjain dengan “sukses” di NF, bukan karena apapun kecuali karena masa depan gue. Masih berkaitan dengan SNMPTN undangan, seluruh senior gue ngetweet, ada yang berusaha men-sabarkan dirinya sendiri, mencoba menguatkan dirinya, mencoba memberi energi positif ke diri mereka sendiri. Dan ada juga yang saling mengucapkan selamat, ada yang minta doa, ada yang berseri, ada yang bilang saling tunggu-tungguan.
Lalu anak seangkatan gue juga nggak mau ketinggalan trend snmptn undangan ini. Mereka ada juga yang mengucapkan selamat, ada yang menyemangati kakak-kakaknya yang belum dapet, dan ini yang paling yahut, kebanyakan mereka ngetweet satu kalimat mutlak yang seolah nggak akan bisa diubah. (spasi) (spasi) . Ya, mimpi-mimpi mereka, harapan dan cita-cita mereka menyangkut kelanjutan hidup mereka di masa mendatang mereka tunjukkan ke dunia. Mereka berharap, dan banyak pula dari mereka yang lain yang ikut mendoakan agar apa yang mereka impikan sekarang dapat terwujud di masa nya. Great job, guys! Kalian punya mimpi, cita-cita, dan harapan. Tinggal dua yang kurang untuk menata masa depan kalian biar lebih perfek lagi. Usaha dan doa. Dengan tiga hal ; mimpi, usaha, dan doa, maka sempurnalah rencana masa depan kalian. Arah kalian jelas, kalian tau kemana harus melangkah. Ketika kalian berada di persimpangan, dengan mimpi yang kalian punya, kalian nggak perlu ragu untuk berbelok ke arah masa depan kalian. Dan hebatnya, kalian bisa show ke dunia tentang mimpi kalian. Gue IRI.
Ya, gue iri sama mereka yang dengan mantapnya berkata “FISKOM UI 2012. AMIN” atau “FKUGM 2013. AMIN” atau “STIP Nautik 2012. AMIN” atau “STAN Perpajakan 2012. AMIN”. Bahkan, sahabat gue menulis dengan mantapnya nama dan ‘calon’ gelar yang akan disandangnya bila dia berhasil lulus dari sekolah idamannya, STIP jurusan Nautik. Dia menulis, “Dimas Bayu Sigit Prasetyo, S.St. AMIN”. Hebat ya?! Sahabat gueeee!!!
Sebelum gue nulis tulisan ini, gue sempet kalut sendiri di twitter, gue ngepost betapa tak terarahnya tujuan hidup gue. Tapi, lagi-lagi seorang Dimas Prasetyo yang menguatkan gue, mencoba nunjukkin ke gue bahwa kondisi yang sedang gue alami sekarang adalah wajar. Dan mencari pembenaran atau lebih tepat dibilang sebagai pembelaan atas apa yang gue alami sekarang. Gue sedang merasa bodoh, nggak becus, nggak kompeten sebagai manusia yang memang diciptakan untuk bersaing berdasarkan hukum alam, “yang kuatlah yang bertahan”.
Gue ngerasa spesies macam gue ini nggak akan bertahan lama untuk dapat mengelilingi dunia. Jangankan dunia, negeri sendiri aja belum tentu bisa. Gue lamban. Gue nggak bisa seoptimis mereka yang dengan tegasnya menyebut apa yang mereka mau. Bahkan tadi siang, gue makan di tempat makan. Untuk sekedar memilih menu makanan yang akan gue makan dan notabene nya usia makanan itu dalam sistem pencernaan gue nggak akan bertahan lebih dari 24 jam aja, perlu 15 menit sendiri buat gue. Gimana tentang fakultas dan universitas? Yang jelas-jelas akan jadi ukiran kelanjutan dari garis kehidupan gue di masa mendatang. Perlu berapa lama gue milih? Perlu berapa banyak pertimbangan sampe gue bisa bilang “Gue mau xxx di xxx!” ? Rasanya 3 tahun SMA nggak cukup buat gue.
Gue sedih, shine pun sedih. Dan katanya Ira juga sedih. Tapi nggak tau sama atau beda, gue sedih karena kelambanan dan kelabilan gue dalam memilih ini. Bukan karena gue ngerasa gue gak mampu. Gue harus mampu, gimanapun caranya apa yang gue pilih itu harus yang gue mampu. Tapi ini masalahnya, gue nggak tau apa yang mau gue pilih! Padahal, kalo mau ngitung bulan, kurang dari 14 bulan lagi gue menghadapi UN, snmptn undangan, snmptn tulis, dan segala tetekbengeknya. Pada saat-saat kayak gini, gue sedang mengalami satu phobia yang paling sering Shine alami. “Merasa bahwa dirinya adalah yang paling tidak berguna dan paling tidak dapat diandalkan dibandingkan dengan yang lain.” Jujur aja, gue sering marahin Shine kalo dia lagi ngerasa kayak gini, tapi sekarang gue perlu minta maaf ke dia karena gue sedang mengalaminya.
Dimas bilang, “Gakpapa lamban, selama lo nggak berhenti, lo nggak akan tergilas roda kehidupan. Toh kura-kura hidup lebih lama daripada cheetah.”
Gue juga inget, ada satu quote ditempel di kelas gue, kerjaannya Reiz. “Life is like bicycling. Unless you stop pedding, you absolutely wouldn’t fall.”
Jadi, harus gimanakah gue?
Comments
Post a Comment