Malam Ini

"Tuhan, cerahkan langit-Mu malam ini, jangan Kau perintah malaikat Mikail untuk menurunkan hujan-Mu. Tolong ya Tuhan, jadikan malam ini cerah dan indah, antara aku dengan dia."

Doa itu yang terselip dalam ibadahku seharian ini. Aku memohon ijin-Nya untuk bisa melihat sekali lagi wajah indahmu dalam birunya malam. Tepat tujuh hari yang lalu, kau kirim pesan untukku yang berisikan sebuah ajakan untuk mengobrol bebas dan lepas, dan secara privasi. Hingga tetesan air mata kubayangkan mengalir di pipimu. Dan ada sebutir air yang hendaknya juga akan jatuh dari ujung mataku. Segala yang kita bicarakan, akan membuat kita terhanyut dalam haru atau kesedihan.

Tapi itu tujuh hari yang lalu, Sabtu lalu. Dan hari ini, Sabtu ini, aku mendatangimu. Dengan doa yang sama yang kupanjatkan kepada Tuhan kita seselesainya aku beribadah, akhirnya Tuhan mengabulkan apa yang kumohonkan. Walau tidak sepenuhnya karena pada nyatanya ada beberapa titik air yang Dia turunkan dari langit-Nya. Tapi beberapa titik air itu tidak menghalangiku untuk melihatmu, dirimu, wajahmu.

Ada sekotak rencana dalam pemikiranku untuk malam ini. Sangat rapi. Walau spontan. Tapi, karena spontan itulah, jadi kurang persiapan. Aku tidak membuat rencana lain untuk antisipasi gagal. Biarlah, toh aku tak berencana untuk menggagalkannya. Walau aku tau semua yang aku rencanakan nantinya akan ditentukan olehmu terlaksana atau tidaknya, tapi tetap saja.

Adzan maghrib berkumandang, aku dengan celana panjang jeans dan kaos Nevada hitamku mengambil air, berwudhu. Lalu kununaikkan ibadah maghribku, dan kembali, kupanjatkan doa yang sama sehari itu. Setelahnya, aku berangkat, menuju rumahmu.

Aku tiba di depan pagar hitam yang sudah sangat tidak asing lagi. Di gang itu, di bawah pohon mangga itu motorku kuparkirkan. Aku turun, dan mengucap salam layaknya adab bertamu yang diajarkan oleh agamaku. Dua kali kuucap salam tapi nggak ada jawaban dari dalam rumahmu. Akhirnya aku kirim pesan singkat ke kamu. Beberapa saat kemudian, dua orang keluar dari rumahmu yang sudah bisa kutebak. Kamu, dan Amel.

Aku senang melihatmu malam ini. Dengan jaket putihmu yang pas sekali kau pakai. Dengan wajah 'kucel' mu yang bahkan terlihat tanpa cela bagiku. Aku ingin malam ini membahagiakan untuk kita.

Aku ajak kau jalan, berkeliling kemanapun. Aku mencoba menemukan satu tempat yang sepi untuk kita membuka apa yang ingin kita buka. Apa yang ingin kau tahu dan apa yang ingin ku tahu. Apa yang selama ini kau pertanyakan dan apa yang selama ini menjadi pertanyaanku pula. Tapi kau selalu menolak, tiap kali kuminta berhenti. Aku tahu, sepanjang tempat itu memang tidak ada yang "pantas untuk kita". Karena kita, "terlalu mulia" untuk disamakan dengan orang-orang seperti itu.

Akhirnya kita berhenti. Dan mengobrol. Di satu tempat yang sama sekali tidak asing untuk kita berdua. Di rumah sahabatku, di rumah sahabatmu. Di rumah teman baik kita. Di bangku hijau, di bawah pohon. Kita sama-sama mulai membuka apa yang ingin kita buka.

Satu obrolan yang tenang dan bermakna telah kita selesaikan. Aku bisa lihat sesuatu disana, di sudut matamu. Entah apakah aku benar atau aku memang benar, tapi aku merasakan satu sorot mata yang hangat, yang seolah memberitahuku bahwa kau nyaman berada denganku malam ini. Bahwa kau senang, bahwa kau tidak menyesal karena telah kuajak pergi. Dan pertanyaanku adalah, apakah apa yang kurasa tentang perasaanmu malam ini benar adanya?

P.S : Masih ada satu hal yang tertinggal, yang harusnya kuucapkan ke kamu tadi. Tapi ada beban berat yang menahan bibirku terbuka. Mungkin bukan malam ini saat yang tepat untukku, mungkin Tuhan merencanakan waktu lain yang lebih tepat untuk kita.

Comments

Popular posts from this blog

the things

sedikit kelegaan