Tentang Bonlap (Pra-MOS)

Gue masih inget, hari itu hari Sabtu, tanggal 11 Juli 2009. Di pengumuman SMAN 1 Tambun Selatan, para calon siswa baru diwajibkan datang pada tanggal itu untuk mengikuti pra-MOS. Well, datanglah gue sebagai calon peserta didik di sana.
Kayaknya waktu itu gue dateng agak telat deh. Soalnya pas gue nyampe di sana, Bonlap udah rame. Udah keliatan hiruk pikuk anak2 berseragam putih-biru yang jalan ke sana ke sini, yang gue gak yakin apa mereka jalan dengan atau tanpa tujuan. Tapi seinget gue lagi, ada satu benda yang jadi kerumunan beberapa ekor berputih-biru itu. What is that precious thing? (oke, lebay) Benda itu gak lebih dari sebuah lembaran padat keras yang ada kakinya dan di badannya tertempel banyak selotip dan kertas-kertas putih bercoret tinta hitam memnuhi seluruh permukaan benda padat keras itu tadi. Kertas-kertas yang tertempel di papan pengumuman itu menunjukkan di kelas mana para calon siswa akan belajar selama 2 semester.
Baru gue turun dari motor yang sangat susah gue carikan tempat berlabuh (?) dan akan berjalan melalui lautan putih-biru itu menuju ke papan pengumuman, tapi kenapa mereka pada berjalan ke arah yang berlawanan sama gue? Gini nih efek datang terlambat, bagaikan tertinggal informasi. Tapi untungnya pas itu ada yang manggil nama gue sambil teriak-teriak dan lari-lari, bawa2 kertas dan pulpen dan gue bisa lihat jelas dia ngalungin sarung hape yang gue gak yakin ada isinya atau nggak di lehernya. Ehem, gue udah siap2 aja berdiri stay cool. Pas dia udah pas di deket gue, gue ambil kertas dan pulpen yang dia genggam, gue goreskan 3 kali coretan di atas kertas itu di mana itu adalah tanda tangan gue. "Plaaakk", pala gue digeplak sama dia. "Apaan sih lu? Sok banget." "Lah terus kenapa lu tadi lari-lari sambil teriakin nama gue dan membuka lengan lebar-lebar kayak mau meluk pohon jati?"
Oke, cerita di atas hanya fiktif belaka yang merupakan wujud ketidak-tau-diri-an dari seorang anak lelaki baru gede yang udah terlalu gede yang labil yang over confidence. Here's the true story (cielah).
Jessica namanya, teman sekelas gue dari kelas 1 SMP. Gue panggil dia Jabluk (Jablay Buluk). Tapi dia gak pernah kesel lho dipanggil begitu. (???) Dia yang sebenernya manggil nama gue tadi. Tapi dia gak bawa kertas pulpen dan gak ngalungin hape. Dia cuma mau ngasih tau saat itu bahwa gue masuk di kelas X4, sekelas sama dia, LAGI! Hati gue mencelos, membayangkan setahun ke depan mesti sekelas sama sang maestro jablay yang kualitasnya buruk (what the hell?). Tapi gue enjoy, karena gue tau dia anaknya asik, pinter, bisa bergaul, ramah, baik, dan gak sombong (bilang apa lu jes sama gue). Anyway, gue pikir itu gak akan terlalu buruk.
Pas gue datang itu, anak-anak baru atau junior Bonlap udah dipanggil dan disuruh baris di lapangan (yang kemudian gue tau itu lapangan voli sekaligus lapangan badminton sekaligus lapangan basket sekaligus lapangan tenis sekaligus lapangan squash sekaligus lapangan upacara). Kita baris kayak anak bebek pas itu, menurut kelasnya masing-masing tentunya. Eh gak gue sangka, pas gue masuk barisan X4, dari total 31 murid, yang 16 berasal dari SMP gue dulu. Yeay, menang jumlah! (mau ngapain dah?) Beberapa mukanya familiar sama ingetan gue. But later, gue baru tau kalau gue sekelas sama seorang berkacamata tinggi besar yang panjang kaki dan badannya gak sinkron. Rangga Putera Perdana namanya. Dia teman gue SMP, sekelas pas kelas 7 dan kelas 8. Yak, dapet 1 teman akrab lagi.
Baris kali itu cuma dikasih tau penempatan ruangan kelas masing-masing, yang akhirnya setelah itu kita semua masuk ke kandang dimana seharusnya kita berada. Gue pilih bangku deret ke-2 dari depan, ini posisi favorit gue di kelas. Gak terlalu mencolok di depan guru dan gak terlalu jauh dari papan tulis. Yang jadi chairmate gue si Rangga tadi, biasa dipanggil Pepe dia. Gue gak mau cerita asal-usulnya ah, sapi bisa bertelur nanti. Suasana pas itu gue masih inget banget dan masih kerasa banget. Suasana orang-orang baru, gak kenal, gak bisa nyapa, tapi ada juga yang udah saling ngobrol. Kebanyakan para cewek ke cewek yang cepet akrab. Gue yang susah banget sosialisasi sama orang dan lingkungan baru cuma bisa terdiam dan hanya bisa diam saat itu. Palingan cuma ngobrol sama si chairmate.
Faktanya sih, kita gak cuma 'sendiri' di sana saat itu. Ada 2 wanita berjilbab yang duduk di kursi guru. Mereka PK kita, Pendamping Kelas. Tugas mereka, yah gak usah dijelasinlah. Yang jelas, mereka adalah kakak kelas pertama yang deket sama kita. Kak Hanna dan Kak Fauziyah namanya. Agenda hari itu cuma kita dikasih pengarahan apa yang harus kita lakukan, yang harus kita bawa, dan yang larangan-larangan yang gak boleh kita langgar selama Masa Orientasi Siswa. Kak Papaw--begitu biasa Kak Fauziyah dipanggil--membawa satu gulungan kertas yang bentuknya kayak surat kerajaan tanpa pita dan tanpa tongkat penggulung. Gak gue sangka, satu gulungan kertas itu tadi ternyata rangkap 3 atau 4 gitu, dan itu semua daftar barang bawaan kita selama MOS dan semuanya harus dimasukkan ke dalam satu tas yang terbuat dari kardus berlogo Bonlap. Barang yang paling asing gue denger saat itu adalah, Roti Bonlap. Jujur pas itu gue baru tau kalau ternyata selain sebagai sarana belajar-mengajar ternyata Bonlap juga pabrik roti. Tapi selama 15 tahun hidup gue rasanya gue gak pernah makan roti yang capnya 'Bonlap'. Eh terus dengan sok akrabnya gue tanya ke 2 anak cewek berseragam hijau yang duduk di depan gue. Aha! Ternyata gue salah persepsi. Yang dimaksud roti Bonlap itu adalah roti rasa kelapa, secara Bonlap adalah singkatan dari keBON keLAPa <-- 4L4Y detected. Gue ngerasa berhutang budi banget sama 2 cewek itu (oke, lebay), yang kemudian gue tau namanya adalah Annuru Agaridza dan Reni Dyah.

Pas semua barang bawaan selesai dibacakan, Kak Papaw keluar. Gak lama dia balik lagi dengan bawa satu kantong plasti di sebelah tangannya, gue lupa kanan atau kiri, gakpenting juga kali ya. Isi dari kantong plastik itu ternyata adalah berlembar-lembar stiker yang gambarnya itu tulisan-tulisan Bonlap, ataupun graviti yang bacaannya juga Bonlap. Gue kira mau dibagiin, taunya itu jualan. Dasar Indonesia. Tapi ada beberapa anak juga sih yang tertarik dan ngebeli itu stiker.
Setelah penjualan stiker sukses, terus di kelas kegiatannya cuma ngobrol-ngobrol doang sama si kakak kelas itu. Yah secara mereka lebih dulu di Bonlap dibanding kita, jadi ya kita dengerin deh nasihat-nasihatnya.
Gak lama setelah itu, ada yang ngetuk pintu ruang kelas. Orang ternyata! Dia manggil para kakak PK yang dinas di kelas gue dengan dalih setoran uang stiker. Pas itu, seluruh kelas gue yakin gak ada yang berpikiran macam-macam! Tapi apa yang kita dapat kemudian? Segerombol orang berseragam putih-hitam dan membawa pentungan satpam masuk kelas kita dan langsung bentak-bentak. Gue masih inget bentakan-bentakannya. "Yang perempuan muslim gak pakai kerudung MAJU! Yang gak pakai rok panjang, MAJU! Perempuan yang gak pakai rok, MAJU! Putra, yang pakai baju dalaman bukan putih, MAJU! Yang sepatunya bukan hitam, MAJU! Yang gak pakai ikat pinggang, MAJU! Yang ngerasa punya kesalahan, MAJU!" Itu kurang lebih bentakan-bentakannya. Satu hal yang perlu diketahui adalah, mereka itu segerombolan, fisik dan umurnya lebih besar dibanding kita, bawa pentungan, dan ngebentak-bentak sambil mentung-mentungin meja-meja. Praktis, gue takut! Wahahaha banci banget ya?! Tapi gue jujur, gue emang takut dan gak suka dengan hal macam ini. Yang membuat gue sangat bersyukur hari itu adalah, gue berseragam lengkap asal SMP gue, yang mana peraturan SMP dan SMA gue ini gak jauh beda! Jadi yaa, gue aman! Huehehe. Lalu gimana nasib mereka yang di depan?
Mereka yang divonis punya kesalahan, dibentak-bentak ditempat. Tongkat para gerombol itu diayun-ayunkan tapi gak sampai kena fisik. Mereka dengan kuasanya yang tak terbatas itu marah semarah-marahnya yang mereka bisa, karena mereka berkuasa! Lalu dengan heroic-nya mereka nyuruh yang punya kesalahan itu ambil posisi push up. Kami yang ngerasa gak punya kesalahan cuma bisa diem ngeliatin fenomena itu. Pas mereka udah tengkurep di lantai, gerombolan tadi ngeliat ke arah tempat duduk, dimana mereka yang gak punya salah berada, termasuk gue. Lalu dengan gagahnya mereka berteriak, "EH YANG DI BELAKANG! GAK PUNYA SALAH?! RELA NGELIAT TEMANNYA PUSH UP GITU?! MANA SOLIDARITASNYA!!!" Serentak kita yang dibentak-bentak kayak gitu langsung turun ambil posisi push up juga. Lalu, kita push up bersama-sama.
Well, gerombolan itu gak lama sih ada di kelas gue, cuma 2-3 menit. Setelah 'puas' marah-marah, mereka keluar tanpa ngucapin apapun. SOK banget! Kemudian mereka keluar, para PK kita masuk. Lalu mereka mulai kasih kita 'siraman-siraman rohani' berkaitan dengan bencana yang baru kita alami. Dari merekalah gue tau bahwa gerombolan orang bertongkat yang sok berkuasa dan paling benar itu bernama Tim Disiplin Pelajar yang lebih popular dengan nama TEDEPE !
Setelah dapet uji mental itu, kita diizinkan pulang untuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus dipersiapkan saat MOS.
Hari pertama gue di SMA--padahal belum resmi berstatus sebagai siswa SMA--pun, *speechless gue*.

Comments

  1. whahahahahahah

    *salah satu amatir yang baik :D

    ReplyDelete
  2. wah seru jd ingat msa lalu . . . jd pngen mos lgi hhehehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

the things

sedikit kelegaan