Harus Apa?
Hari ini adalah hari terakhir seluruh murid di sekolah gue belajar di semester 2, di mana artinya ini hari terakhir pula kami, para murid, belajar bareng sama teman-teman kelas kami masing-masing. Banyak hal yang terjadi di hari ini. Entah itu berkaitan dengan pelajaran, atau pun acara independen kelas-kelas yang merasa mereka harus membuat semacam 'farewell party'.
Tadi pagi, gue berangkat kayak biasa aja, sama sekali gak ngerasa bahwa ini tuh akan menjadi hari terakhir gue belajar sama teman-teman FantasticX4 (begitu gue dan teman-teman sekelas menamai kelas kami). Buka pintu kelas, gue mencium sesuatu yang aneh, bau apa ini? Apakah ini bau perpisahan? Memang baunya gak enak, tepat rasanya kalau dibilang itu bau perpisahan. Tapi gue gak terlalu menjadikan itu sebagai soal. Anyway, gue keluar kelas lagi, duduk di koridor tercinta itu --hampir lebih dari 10 bulan gue selalu duduk di sana kalau jam istirahat, jam pelajaran kosong, atau kalau gue lagi bete. Dan disana pula biasanya gue nunggu teman-teman gue datang, tempat itu memang strategis, karena itu adalah satu-satunya jalan yang akan semua murid lalui kalau mau naik ataupun turun. Nggak lama, Aji dateng bawa pesanan gue, Yolanda. Gue ambil Yolanda (yang notabene adalah sebuah gitar) dari punggungnya Aji, lalu gue mainkan beberapa saat sebelum sebentar kemudian teman kelas gue --Shasa dateng. Pagi itu memang Shasa adalah orang yang paling gue tunggu-tunggu kedatangannya, tapi seperti biasa dia datang dengan mukanya yang agak jutek itu. Gue biarin dia, gak gue sapa. Kenapa Shasa adalah orang yang paling gue tunggu kedatangannya pagi tadi? Karena dialah juru kunci dari tugas gue. Kelas gue dikasih tugas sama guru Bahasa Indonesia untuk bikin satu majalah, dan semua tugas itu ada di Shasa, karena memang dia bagian pengeditan halaman. Pas dia mau turun ke kantin untuk ngejilid majalah itu, lari turun untuk ikutin dia. Gue emang berencana mau temenin dia, gue gak enak sama dia karena dia udah repot banget ngurusin tugas anak sekelas itu. Setelah selesai ngejilid, gue naik lagi ke atas. Di kelas guru gue sudah masuk, saat itu jam pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ternyata ada satu tugas yang harus dikumpulin dan gue gak bawa tugas itu. Beruntung, gue punya copy datanya di Flash Disk gue. Gue akhirnya nitip ke teman gue untuk nge-print itu tugas. Selesai.
Sudah saatnya ganti jam pelajaran. Sekarang pelajaran gue Bahasa Inggris. Agendanya adalah kita akan diambil nilai speaking oleh guru kita. Yap, itu beres. Setelah semua agenda terlaksana untuk pelajaran bahasa Inggris, sebelum keluar guru kami sempat meminta maaf ke kami kalau beliau punya kesalahan selama hampir satu tahun mengajar kami. Hari ini memang hari terakhir kami belajar. Setelah itu kami dipersilakan istirahat.
Sepanjang jam istirahat gue ada di kelas sebelah, kelas X3. Dari awal gue emang udah excited banget sama kelas itu. Gue comfort di sana. Anak-anaknya friendly dan welcome banget. Gue sempat dengar selentingan, bahwa kelas ini bakalan ngadain 'farewell party'. Tapi itu belum terlihat pas gue ada di sana. Dari mulai bel istirahat sampai bel masuk berbunyi, gue mainin gitarnya Aji, nyanyi-nyanyi bareng di X3. Saat itu gue berpikir, kalau gue di kelas gue sendiri, main gitar, nyanyi-nyanyi, gak akan ada satu orang pun yang menghiraukan gue. Jangankan untuk ikut bernyanyi, ngelirik gue aja mungkin gak ada. Sedangkan di X3, jauh sekali bedanya. Gimana gue gak ngerasa lebih comfort di sana coba?!
Bel masuk berdering. Gue harus kembali ke alam asli gue. Di ruang kelas yang dingin itu. Sedingin temperamen anak-anak penghuninya. Sedingin sapaan mereka. Pelajarannya fotografi, agak boring. Tapi ya gue berusaha enjoy ajalah.
Jam kelas gue menunjukkan tepat jam 11.30. Berhubung hari itu hari terakhir, jadi kami diizinkan pulang lebih awal oleh pihak sekolah. Hari ini hari Jum'at, masih ada tanggungan buat gue selaku muslim, gue harus sholat Jum'at. Karena teman-teman gue pada kompakan untuk sholat Jum'at di sekolah, akhirnya gue ikutin mereka. Cuma, sebelum sholat Jum'at, pas gue baru aja keluar dari kelas gue dan gue tengok ke kiri, anak-anak X3 matanya pada merah. Kenapa mereka? Ya, gue tau, itu tipikal orang yang habis nangis. Gue sempet ngintip ke ruangannya, gak cuma 1-2 orang, tapi hampir semua cewek di kelas itu nangis. Bahkan drummer band gue, Eka, dia juga nangis. What the...?! Apa yang gue lewatkan?
Ternyata air mata yang tumpah itu adalah akibat dari selembar kertas dan sejumlah tinta yang tergores di atasnya. Mereka bermain penilaian berantai. Satu kertas bertuliskan satu nama, di mana setiap anak harus mengisi kertas tersebut dengan komentar dan pendapatnya tentang bagaimana karakter anak itu. Dan di hasil akhirnya, saat tiba waktunya untuk membuka hasil dari tulisan itu, gue paham benar, air mata mereka tak tertahan.
Munafik memang kalau kita bilang mereka cengeng. Nggak! Itu bukan air mata yang sia-sia. Itu air mata berharga, harga dari sebuah kesolidaritasan yang selama hampir satu tahun berhasil mereka bangun dengan kokoh! Itu adalah harga ketika sebuah dinding kuat yang mereka bangun bersama harus dihancurkan berkeping-keping menjadi beberapa bagian. Bukan harga yang tak senilai, tapi itu pantas, bahkan amat pantas untuk membayarnya. gue mengerti dan memahami, bagaimana perasaan mereka saat itu. Meskipun gue bukan bagian dari mereka. Tapi gue sering berada di tengah-tengah mereka, gue sering menikmati indahnya waktu bersama mereka, gue sering bercanda, tertawa, berteriak bersama mereka. Dan itu setidaknya membuat gue sedikit memahami bagaimana karakter mereka masing-masing. Bahkan gue, yang terhitung bukan siapa-siapa di antara mereka, ngerasain kesedihan hanya dengan melihat mereka yang bercucuran air mata. Gue tau gimana rasanya kehilangan, tapi gue belum pernah kehilangan sesuatu yang disebut dengan keluarga. Mereka sampai menamai dirinya keluarga, betapa dekatnya mereka. Hal itu yang selalu membuat gue iri, membuat gue selalu berpikir, kenapa gue bukan bagian dari mereka. Gue nyaman sama mereka, gue kagum sama mereka, gue suka sama mereka, tapi kenapa gue bukan bagian dari mereka? Mungkin Tuhan menggariskan gue ke arah yang lain. Tapi pada akhirnya, Tuhan memang baik, Dia mengizinkan gue untuk mengenal mereka, untuk sempat merasakan hangatnya keluarga itu, untuk dapat tertawa di tengah-tengah keluarga itu. Thanks Allah.
Jum'at, 11 Juni 2010 23:06
Comments
Post a Comment