This Is Not What I Intended
np Secondhand Serenade - Fall For You
"This is not what I intended."
Ya, ini bukan yang gue niatkan. Berada di tengah situasi seperti orang tolol yang nggak ngerti apapun, persis gak ada bedanya sama kerbau kalo lagi dicocok hidungnya. Pernah denger kan peribahasa macam itu? Artinya yang kurang lebih adalah lo nggak lebih dari seorang manusia hidup tanpa pikiran, sehingga apa yang lo lakuin nggak lebih dari tindak lanjut dari omongan orang-orang yang 'merintah' lo untuk begini-begitu. Atau lebih parahnya adalah, lo lakuin beberapa hal tanpa perintah dari orang lain, tapi lo nggak sadar dengan apa yang sedang lo lakuin. ...
Siapa yang mau terjebak? Bahkan seekor kelinci pun tidak. Terjerat dalam jaring-jaring emas bernuansa mewah tapi lo sadar bahwa lo nggak bisa lakuin apapun, bahkan sekedar mengekspresikan apa yang lo ingini. Untuk apa? Jelas akan lebih banyak orang tinggal di daerah terpelosok dan terisolir tapi paling tidak mereka tidak terbelenggu dibalik dinding apapun. Mereka bebas, lepas, bagai wilayah tanpa batas.
Terkadang gue mikir--ya, hanya terkadang. Apa yang gue punya? Barang-barang yang selama ini gue gunakan? Uang yang selama ini gue hamburkan? Waktu yang selama ini gue luangkan? Nggak. Those all are totally not mine. Yeah, gue rasa lo berpendapat sama dengan gue. Barang yang selama ini gue gunain, semua belinya pake uang orang tua. Kalo pun ada yang berstatus "beli pake duit sendiri", duit gue itu dari mana? Orang tua juga. Apalagi uang yang gue hamburkan. Walaupun gue nabung, dan akhirnya gue sendiri yang make uang tabungan gue itu, tapi gimana gue bisa dapet uang untuk ditabungin? Minta juga ke orang tua. Berbicara tentang waktu, siapa yang memiliki waktu? Sang penguasa paling diktator sejagat raya dan tak akan pernah mentoleransi apa yang telah diperbuat oleh manusia terhadapnya, dia takkan pernah memberi kesempatan kita untuk kembali. Dan gue, meluangkannya. Tidak memanfaatkannya.
Malesin kan? Sampai berusia hampir tujuh belas tahun--yang sebagian besar orang bilang adalah batas ambang kedewasaan--gue masih terbelenggu di dalam hal-hal macam ini. Gue masih hidup terjerat jaring sutra, enak tapi tak bebas. Gue bisa lakuin apa yang gue mau, karena jujur jaring itu masih ngasih gue space untuk itu. Tapi, tetap ada batasan-batasan dimana akhirnya jaring itu mengharuskan gue untuk tidak melampaui batasnya, atau lebih tepat, tidak bisa melampaui batasnya.
Gue pengen, pengeeeeeeen banget bisa ngelampauin batas-batas yang sudah ditetapkan itu. Dengan cara yang terhormat pastinya. Tapi pertanyaannya adalah, bisa kah gue? Ups, cupu sekali gue kalo pertanyaannya itu. Orang pasti akan jawab, "LO PASTI BISA SON!" Then okay, pertanyaannya gue ganti. Kapan? Kapan gue bisa lampaui itu semua? Sampai pada akhirnya gue bisa merengkuh apa yang ingin gue rengkuh. Bukan harta yang banyak, bukan benda-benda presticious dengan merek terkenal, bukan segala aktivitas yang bisa gue pamerin dengan update di twitter. Bukan itu semua, tapi cukup dengan sampai gue bisa memenuhi apa yang gue butuhkan, dengan tangan gue sendiri. Dengan tangan gue bergelut, bukan tangan gue membuka telapaknya dan menerima apa yang diberi. Tapi gimana sistem saraf pusat gue mengendalikan bagian-bagian tubuh gue untuk melakukan sesuatu yang berguna, berharga, lebih dari itu, menghasilkan sesuatu. Dan gue akan bisa cukup bangga berkata, "Ini hasil gue sendiri."
Kalo lo bertanya dimana sangkut pautnya antara judul tulisan ini dengan uraian tetekbengek yang gue tulis diatas, mungkin ada beberapa yang ngerti, tapi lebih banyak yang enggak. Yeah, gue tau susah banget nyari benang merahnya. Kalo harus gue ceritain......
Enggak. Gue nggak harus ceritakan. Poinnya adalah, nggak ada manusia yang bisa berada dalam posisi yang dia niatkan sejak awal, yang dia impikan, dan dia inginkan, dimana posisi itu adalah posisi paling nyaman dalam kehidupan ini, tanpa usaha. Adalah sebuah teori fisika sederhana yang umum diketahui oleh seluruh umat manusia se-muka Bumi bahwa pada setiap aksi yang kita lakukan maka selalu akan ada timbal balik yang kita terima dengan besar yang sama dan arah yang berlawanan. Itulah reaksi.
"This is not what I intended."
Ya, ini bukan yang gue niatkan. Berada di tengah situasi seperti orang tolol yang nggak ngerti apapun, persis gak ada bedanya sama kerbau kalo lagi dicocok hidungnya. Pernah denger kan peribahasa macam itu? Artinya yang kurang lebih adalah lo nggak lebih dari seorang manusia hidup tanpa pikiran, sehingga apa yang lo lakuin nggak lebih dari tindak lanjut dari omongan orang-orang yang 'merintah' lo untuk begini-begitu. Atau lebih parahnya adalah, lo lakuin beberapa hal tanpa perintah dari orang lain, tapi lo nggak sadar dengan apa yang sedang lo lakuin. ...
Siapa yang mau terjebak? Bahkan seekor kelinci pun tidak. Terjerat dalam jaring-jaring emas bernuansa mewah tapi lo sadar bahwa lo nggak bisa lakuin apapun, bahkan sekedar mengekspresikan apa yang lo ingini. Untuk apa? Jelas akan lebih banyak orang tinggal di daerah terpelosok dan terisolir tapi paling tidak mereka tidak terbelenggu dibalik dinding apapun. Mereka bebas, lepas, bagai wilayah tanpa batas.
Terkadang gue mikir--ya, hanya terkadang. Apa yang gue punya? Barang-barang yang selama ini gue gunakan? Uang yang selama ini gue hamburkan? Waktu yang selama ini gue luangkan? Nggak. Those all are totally not mine. Yeah, gue rasa lo berpendapat sama dengan gue. Barang yang selama ini gue gunain, semua belinya pake uang orang tua. Kalo pun ada yang berstatus "beli pake duit sendiri", duit gue itu dari mana? Orang tua juga. Apalagi uang yang gue hamburkan. Walaupun gue nabung, dan akhirnya gue sendiri yang make uang tabungan gue itu, tapi gimana gue bisa dapet uang untuk ditabungin? Minta juga ke orang tua. Berbicara tentang waktu, siapa yang memiliki waktu? Sang penguasa paling diktator sejagat raya dan tak akan pernah mentoleransi apa yang telah diperbuat oleh manusia terhadapnya, dia takkan pernah memberi kesempatan kita untuk kembali. Dan gue, meluangkannya. Tidak memanfaatkannya.
Malesin kan? Sampai berusia hampir tujuh belas tahun--yang sebagian besar orang bilang adalah batas ambang kedewasaan--gue masih terbelenggu di dalam hal-hal macam ini. Gue masih hidup terjerat jaring sutra, enak tapi tak bebas. Gue bisa lakuin apa yang gue mau, karena jujur jaring itu masih ngasih gue space untuk itu. Tapi, tetap ada batasan-batasan dimana akhirnya jaring itu mengharuskan gue untuk tidak melampaui batasnya, atau lebih tepat, tidak bisa melampaui batasnya.
Gue pengen, pengeeeeeeen banget bisa ngelampauin batas-batas yang sudah ditetapkan itu. Dengan cara yang terhormat pastinya. Tapi pertanyaannya adalah, bisa kah gue? Ups, cupu sekali gue kalo pertanyaannya itu. Orang pasti akan jawab, "LO PASTI BISA SON!" Then okay, pertanyaannya gue ganti. Kapan? Kapan gue bisa lampaui itu semua? Sampai pada akhirnya gue bisa merengkuh apa yang ingin gue rengkuh. Bukan harta yang banyak, bukan benda-benda presticious dengan merek terkenal, bukan segala aktivitas yang bisa gue pamerin dengan update di twitter. Bukan itu semua, tapi cukup dengan sampai gue bisa memenuhi apa yang gue butuhkan, dengan tangan gue sendiri. Dengan tangan gue bergelut, bukan tangan gue membuka telapaknya dan menerima apa yang diberi. Tapi gimana sistem saraf pusat gue mengendalikan bagian-bagian tubuh gue untuk melakukan sesuatu yang berguna, berharga, lebih dari itu, menghasilkan sesuatu. Dan gue akan bisa cukup bangga berkata, "Ini hasil gue sendiri."
Kalo lo bertanya dimana sangkut pautnya antara judul tulisan ini dengan uraian tetekbengek yang gue tulis diatas, mungkin ada beberapa yang ngerti, tapi lebih banyak yang enggak. Yeah, gue tau susah banget nyari benang merahnya. Kalo harus gue ceritain......
Enggak. Gue nggak harus ceritakan. Poinnya adalah, nggak ada manusia yang bisa berada dalam posisi yang dia niatkan sejak awal, yang dia impikan, dan dia inginkan, dimana posisi itu adalah posisi paling nyaman dalam kehidupan ini, tanpa usaha. Adalah sebuah teori fisika sederhana yang umum diketahui oleh seluruh umat manusia se-muka Bumi bahwa pada setiap aksi yang kita lakukan maka selalu akan ada timbal balik yang kita terima dengan besar yang sama dan arah yang berlawanan. Itulah reaksi.
Comments
Post a Comment