Kenapa Aku Senang Mengikutimu?

#NowPlaying: Pemuja Rahasia-SO7

"...untuk seseorang yang diperuntukkan tulisan ini baginya. Tulisan ini aku buat dengan sedikit keisengan dan kenakalan, lebih tepatnya aku mengetiknya pada kondisi aku membolos dari jadwal lesku dan mengikuti jejak salah seorang teman untuk ke warnet. Awalnya aku tidak berpikiran untuk bermain internet di kafe ini. Tapi aku teringat akan janjiku padamu yang segera harus kutepati. Kamu sudah 'membayar salah satu hutangmu' maka kini ijinkan aku untuk mencoba membayar giliranku..."

"Kenapa lo nggak mau ngerti alasan gue sih?! Bagian mana yang lo nggak bisa terima?!" Tanya Sus ngotot.

"Semua! Berapa kali sih gue harus bilang kalo gue tuh nggak suka dikuntitin kayak gitu!" Jawab Tri, dingin.

Setidaknya jawaban dengan nada sedingin salju di musim dingin itu cukup untuk membuat Sus terdiam seribu bahasa, tidak dapat lagi membalas apa yang baru saja diucapkan oleh pacarnya itu. Sus bukan lah cowok yang tidak mampu berdebat. Bahkan mungkin tidak mungkin Sus mendapat jabatan di organisasi sekolah kalau bukan karena kepandaiannya merangkai kata untuk menyampaikan maksudnya ataupun mempertahankan pendapatnya ketika pendapatnya itu tidak diterima oleh orang lain. Tapi entah mengapa, setiap di hadapan pacar yang sangat disayanginya itu, dia tidak bisa, tidak pernah bisa membuat pacarnya terdiam, kalah dalam perdebatan. Tidak tega mungkin. Atau ada alasan lain? Entahlah.


Ini bulan kedua hubungannya dengan Tri. Tepat minggu depan adalah bulan ketiga mereka. Namun selama dua bulan tiga minggu itu, mereka tetap saja sering sekali bertengkar. Lebih sering karena 'ketidak-tegasan' Sus, yang sedikit-sedikit selalu menyerahkan kepada Tri untuk mengambil keputusan. Entah itu memesan makanan saat mereka makan bersama, memilih tempat kencan, memilih film yang akan mereka tonton, atau bahkan memilih jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tempat. Yang parah adalah kalau mereka satu motor dan berdebat disana. Namun sekali lagi, Sus selalu 'mengalah'. Bukan 'kalah'.

Hari ini pun mereka bertengkar lagi. Karena satu kebiasaan Sus yang sudah sejak dulu dilakukannya. Namun Tri, tanpa alasan yang jelas, tidak suka dengan kebiasaan pacarnya itu. Kebiasaan yang sedang dimaksudkan adalah mengawasi dan mengikuti Tri pada saat pulang sekolah. Padahal apa yang Sus lakukan hanyalah untuk memastikan bahwa Tri aman dan tidak terjadi apapun kepadanya. Sus mengendarai sepeda motornya dan Tri pun mengendarai sepeda motornya sendiri. Karena rasa sayangnya mungkin, maka Sus selalu saja berhasrat untuk memastikan keamanan Tri. Dengan cara itu tadi, mengikuti sepeda motor Tri dari belakang.

Satu kali, Tri merasa terlindungi. Dua kali, Tri semakin senang. Tiga kali, Tri menganggap pacarnya adalah gentleman terhebat. Empat kali, lima kali, enam kali, Tri masih merasakan perhatian pacarnya. Tujuh kali hingga hari ini adalah yang ke dua puluh delapan kalinya, Tri merasa diresahkan oleh kebiasaan pacarnya ini, gentleman terhebat di dunia. Dia merasa dirinya bukanlah anak kecil yang harus diawasi dari belakang, dia ingin Sus tahu bahwa dia bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi Sus tidak pernah mengerti itu. Dia selalu merasa bahwa dirinya adalah laki-laki, dia pacarnya, yang seharusnya selalu melindungi Tri dari apapun, bahkan walau hanya kemungkinan, yang dapat saja membahayakan Tri. Dan perjalanan dari sekolah ke rumah Tri bukanlah perjalanan yang dekat. Lima ribu meter jaraknya. Dua puluh menit ditempuh dengan sepeda motor. Dan jalanan yang biasanya dilalui Tri pun bukan jalan halus. Jalan penuh lubang dan bebatuan yang setiap saat bisa saja merobek ban motornya, atau membuat ban motornya selip, dan membuat Tri jatuh. Terlebih lagi di lintasan rumah-sekolah Tri harus melintasi perlintasan kereta api.

"Kalau terjadi apa-apa sama lo, terus siapa yang nanti mendampingi gue sebagai raja di istana kehidupan gue ini? Gue pengen lo, cuma lo, nggak yang lain, yang dampingin gue sebagai ratu. Yang bisa gue turuti permintaannya tanpa pernah bilang 'nggak' atau 'ntar dulu'. Kalau pun bukan lo, kalau pun gue punya pacar yang lain, kalau pun gue punya seseorang lain di sisi gue, dia nggak akan pernah menduduki singgasana sang ratu di istana kehidupan gue ini. Karena sejak pertama kali gue ngeliat lo, gue netapin satu hal, bahwa hanya lo yang bisa mendudukinya dengan mahkota seindah yang gue hadiahkan ke lo, yang kemudian gue sebut mahkota itu sebagai 'cinta'," pikir Sus. Bahkan dia memikirkan sejauh itu.

Tri memang selalu saja terlampau spesial bagi Sus. Wajar, Tri cantik luar biasa. Dia juga baik, dan hampir tanpa kekurangan selain hubungannya yang sering kali dibumbui pertengkaran dengan ibunya. Tapi itu masih dalam batas kewajaran bagi Sus, maklum, cewek sama cewek. Bagaimanapun juga adalah hal yang wajar bila ABG cewek bertengkar dengan ibunya. Selain itu, semua yang ada pada Tri adalah sempurna bagi Sus.

Bahkan Sus telah bisa menyimpulkan kesempurnaan Tri sejak pertemuan pertama mereka. Atau pertemuan pertama itu yang membuat Tri menjadi sesempurna itu bagi Sus? Entahlah. Hanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan perasaan manusia. Yang jelas, pada pertemuan pertama itu terjadi 'tsunami' di hati Sus. Suatu gejolak perasaan yang seumur hidupnya, selama empat belas tahun (usia Sus saat bertemu Tri tiga tahun yang lalu) belum pernah ia rasakan. Sus tidak akan menyangka bahwa berawal dari pertemuan yang hanya dua detik itu akan menimbulkan suatu perasaan aneh selama dua tahun, bahkan mungkin lebih. Ya, perasaan itu adalah cinta.

Pertemuan itu terjadi pada saat Sus sedang berkeliling menyampaikan pengumuman. Sus yang aktif di organisasi di sekolah sedang menyebarkan informasi ke seluruh siswa kelas dua secara class to class. Kelas 2A sudah, 2B juga tuntas. 2C, sedang olahraga. 2D hingga 2K tak terasa sudah tersampaikan semua. "Tinggal 2C nih," gumam Sus.

Lalu dari beranda kelas Sus melihat kelas Tri yang sedang berolahraga di lapangan bawah. Langsung saja Sus tanpa berpikir apa-apa dengan misi menyampaikan informasinya itu menemui KM kelas 2C. "Biarlah nanti KMnya yang menyampaikan ke temen-temennya," pikir Sus.

Setelah menuruni satu demi satu anak tangga, Sus tiba di lapangan tempat kelas 2C berolahraga. Lalu dia menghampiri salah satu siswi dan meminta tolong, "Bisa tolong panggilin KMnya nggak?" Ucap Sus kepada siswi tersebut. "Oh, oke," jawab siswi tersebut sambil senyum, cantik. Siapa sangka? Hanya berawal dari pertemuan tidak sengaja dan dihiasi dengan lima kata nggak guna dari Sus dan dua kata respon dari siswi tersebut serta satu senyuman cantik itu bisa membuat perasaan hebat tak terlupakan selama tiga tahun ke depan? Ya, siswi yang dimintai tolong oleh Sus itu adalah Tri.

"Eh bro, kantin yuk!" Ajakan Ari -kawan baik Sus- membuyarkan lamunan nostalgianya.
"Sembarangan, emang udah bel istirahat?"
"Makanya jangan bengong terus! Ayolah!"
Ajakan Ari yang terakhir sekaligus menarik lengan Sus, membuatnya tak berdaya menolak ajakan kawan karibnya itu.
"Problem nih."
"Tri lagi?"
"Iya. Marah dia."
"Dasar ya cewek, gimana sih jalan pikirannya. Dia gak tau aja kenapa lo ngelakuin itu. Kalo aja dia tau, gue gak tau deh gimana responnya."
"Udahlah, biarin aja. Dia ngga usah tau juga gapapa kok."
"Lo juga, makanya kalo sayang sama orang tuh jangan dalem-dalem!"
Debatan sekilas kedua sahabat itu membekas di pikiran Sus. "Segitu sayangnya kah gue sama dia?" Satu pertanyaan besar yang masuk akal, namun Sus sendiri nggak pernah berani untuk cari tahu jawabannya.
"Terus gimana? Mau dibiarin aja tuh si Tri?"
"Yah mau gimana, Ri. Gue juga bingung gimana ngadepinnya. Just go by the time aja deh."
"Waktu itu digunain, bukan dipasrahin. Nyesel lho."
"Bener juga ini anak, terus gue mesti gimana?" Sus bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Sus bukanlah seorang yang suka dengan rencana setengah-setengah. Kalo mau lakuin sesuatu, hanya ada dua kemungkinan untuk Sus. Dengan konsep dan rencana yang matang jelas terdefinisi atau tanpa rencana sama sekali, alias spontan. Untuk masalah kali ini, Sus akan pilih yang ke-dua.

Sus terbangun dari tidur yang tidak cukup nyenyak tadi malam. Bagaimana bisa dia tidur sementara dia tau bahwa dia punya masalah sama orang tersayangnya? Jelas tidak.
"Hari ini, gimanapun juga, kalo ketemu Tri, gue harus minta maaf. Gimanapun caranya, harus dimaafin, atau gue gak akan pernah tidur nyenyak lagi," pikirnya pagi itu.

Sus berangkat lebih lambat dari biasanya. Tiba di sekolah pun setelah bel masuk bunyi. Masuk ke kelas, meletakkan tas di bangkunya. Ari menyapanya.
"Kenapa masuk lu?"
"Sialan, bagus gue masuk. Tri coy, gak bisa tidur gue semaleman. Baru tidur pagi."
"Makanya minta maaf sana."
"Iya."

"Jadi rumus dari x satu dan x 2 itu sama dengan minus b plusminus akar dari b kuadrat minus empat a c per dua a," guru Matematika Sus menjelaskan sekelumit materi yang amat rumit. Namun tetap tidak lebih rumit dari integral pada Fisika. Dan integral Fisika pun masih tidak lebih rumit dari pada suatu hal yang jarang masuk akal, cinta.
"Bro, how can she be as that beautiful?" Sus bertanya pada Ari, sambil memandangi Tri di seberang ruangan, mengagumi kecantikannya. Ari yang selalu penuh kejutan menjawab hanya dengan tiga kata;
"Becaused of LOVE,"

Sungguh jawaban yang amazing dari seorang yang amazing pula. Ari memang selalu tahu cara bagaimana menghibur Sus. Akhirnya sekolah usai dengan berkumandangnya bel pulang. Sus segera ke area parkir kendaraan. Tadi pagi Sus telah memarkirkan sepeda motornya di dekat sepeda motor Tri. Sengaja. Dengan sebuah rencana. Tanpa persiapan omongan.

Sus menunggu. Tiga puluh, empat puluh, lima puluh, hingga enam puluh menit. Belum juga sang pemilik sepeda motor muncul. "Kemana dia?" Tanya Sus. Area parkir sudah jauh lebih sepi dibanding tadi. Tinggal empat motor yang tersisa, termasuk motor mereka berdua. Yang letaknya berdekatan hanyalah motor mereka berdua. Akhirnya, yang ditunggu sejak tadi pun datang.

"Kenapa lo belom pulang? Malah duduk di atas motor kayak gitu. Mau ngikutin gue lagi?" Bukan sapaan, namun pertanyaan dingin yang keluar dari mulut Tri.
"Lo masih marah?" Tanya Sus.
"Menurut lo?" Jawab Tri dingin, sambil menekan tombol 'start engine'.
"Wait, Tri. Gue mau ngomong." Tanpa tahu apa yang akan dibicarakan karena memang tidak mempersiapkannya sama sekali, Sus mencoba menahan Tri yang sudah akan menarik tali gas sepeda motornya.
"Ya?"
"Maafin gue ya. Gue tau ini mungkin ngebosenin buat lo. Tapi, gue harus minta maaf ke lo. Dan lo harus maafin gue. You're messing my life up when you're mad to me. When you're upset with me."
"Do I care with that anyway?"
"Oh, God. Tri, please. Maafin gue."
"Satu pertanyaan."
"Anything, Tri!!!"
"Kenapa lo suka lakuin itu? Ngikutin gue dari belakang."

Sus kini menghadapi konflik batin. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memberi tahu Tri tentang ini. Namun apabila dia tetap bertahan pada prinsipnya, dia tidak akan mendapat maaf Tri. Kini ia dihadapi pada pilihan yang cukup sulit. Konsistensi atau orang tersayang.

Jelas, dia tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Tri nggak akan nunggu dia lebih lama hanya untuk menjawab sebuah pertanyaan yang sebenarnya sepele. Tapi bagi Sus, pertanyaan itu akan membuka sesuatu yang selama ini hanya diketahui olehnya, dan Ari. Sesuatu yang menyangkut tentang pendiriannya, prinsipnya. Yang sebenarnya Tri tidak perlu tahu, karena ini adalah hal yang sepele juga. Ini sepele, tapi kenapa Sus tidak mau Tri tahu?

Sus menetapkan pilihan. Dia memilih Tri. Mengalahkan 'keegoisannya'. Mengalahkan prinsipnya demi orang tersayangnya.
"Karena gue pengen pastiin lo nggak kenapa-kenapa sampe rumah."
Tri tertawa pendek namun ketus mendengar jawaban Sus. Sungguh sesuatu yang sepele bukan?
"Lo pikir ini lucu? Atau sepele? Coba lihat gue. Tatap gue." Seru Sus sambil menengadahkan wajah Sus ke wajahnya.
"Buat gue, ini bukan sepele, Tri. Ini penting. Gue pengen bisa terus ngelindungin lo. Setidaknya memastikan bahwa lo aman. Gue sayang sama lo, dan karena itu, gue selalu pengen bisa pastiin keadaan lo. Gue pengen jadi orang pertama yang nolong lo kalo terjadi apa-apa sama lo, dan gue pengen jadi orang terakhir yang nemenin perjalanan lo sampe tempat tujuan. Jadi satu-satunya orang yang ada di belakang lo saat lo nggak punya siapapun lagi."
"Kenapa lo nggak jalan di samping gue aja kalo gitu? Itu akan jauh lebih baik, bikin gue nyaman. Jauh lebih baik kan buat kita berdua?" Potong Tri.
"Sesekali boleh, tapi belum waktunya buat gue jalan di samping lo. Karena gue nggak mau di tengah jalan kita memisahkan diri. Untuk sekarang ini, gue mau tetap jalan di belakang lo. Biar gue nggak terlalu sakit nanti kalo gue harus kehilangan lo, atau nggak milikin lo. Ngawasin lo dari belakang mungkin lebih menyenangkan bagi gue. Karena dengan begitu gue masih terus bisa ngawasin plus nyaksiin objek terindah bagi gue. Yang gue mau, lo tau, dan lo yakin, bahwa di belakang lo ada seseorang yang sayang sama lo dan akan terus jaga lo. Walau hanya dari sisi belakang."

Mata Tri berkaca-kaca mendengar penjelasan Sus. Bukan karena seberapa bagus untaian kata yang Sus ucapkan, tapi karena kesungguhan Sus dari hatinya yang Tri bisa lihat melalui matanya.

Sore itu, Sus mendapatkan dua hal sekaligus dari satu orang dan pada satu momen. Sebuah maaf dan sebuah pelukan hangat dengan penuh kasih sayang, dari Tri.

Comments

Popular posts from this blog

the things

sedikit kelegaan